Home
Kalender Kegiatan Komunitas
Renungan Prapaskah 2018
Bacaan Harian Bersama John Main
Daily Wisdom
Weekly Teaching
Newsletter
Renungan Bacaan Injil
Bahan Pengajaran
> > Bahasa Indonesia
> > Bahasa Inggris
Cara Bermeditasi
Pokok Pengajaran
Oblat WCCM
Kerabat Meditator


Acara Khusus
Jadwal Pertemuan
Kolom Tanya Jawab
Berita & Foto
Sharing
Kepustakaan
Tentang Kami
Hubungi Kami















Links:
Bahasa Inggris
* WCCM
* Programme | Bonnevaux Centre for Peace
* School of Meditation
* Christian Meditation for Priests












Sharing:

Pengalaman sebagai pelajaran: Rm Cyprianus Verbeek O Carm

PENGALAMAN SEBAGAI PELAJARAN
SHARING TENTANG MEDITASI KRISTIANI

oleh Cyprianus Verbeek, O.Carm

Pada tahun 1989 saya sempat tinggal di pertapaan Trapist di Amerika. Di perpustakaan saya menemukan buku kecil “The Getsemani Talks”, karangan Dom John Main, O.S.B. Saya belum pernah mendengar tentang Romo John ini dan tidak tahu juga bahwa beliau mengawali suatu gerakan yang sekarang sudah dikenal di semua benua bumi kita ini. Karena saya suka menterjemahkan pada waktu bebas, maka buku yang membahas meditasi mulai saya terjemahkan. Kemudian buku kecil itu memang diterbitkan dengan judul “Doa singkat dan Doa hening”. Pembaca yang sudah biasa melatih diri dalam Meditasi Kristiani, pasti kenal buku itu.

Namun bila anda mengira bahwa sejak tahun 1989 saya menggunakan cara bermeditasi yang diajarkan Dom John Main, O.S.B., saya terpaksa mengecewakan saudara. Mengapa? Menterjemahkan buku ini tidak benar-benar berpengaruh pada cara saya berdoa batin. Saya menterjemahkannya karena merasa itu berguna. Dan ternyata buku kecil ini membantu awal kelompok Meditasi Kristiani di Indonesia. Saya sendiri tidak tahu. Saya dapat ijin terbit buku ini dalam terjemahan Indonesia dari Dom Laurence Freeman, O.S.B. namun kami baru bertemu satu sama lain pada tahun 2007 ini, ketika Beliau mengunjungi Indonesia dalam rangka memperkenalkan Meditasi Kristiani di pelbagai kota besar di Jawa.

Mungkin seperti kebanyakan peserta Komunitas Meditasi Kristiani Sedunia saya pernah mulai bermeditasi dengan menggunakan cara yang diajarkan Dom Main dan…sesudah beberapa waktu berhenti lagi. Gejala mulai-berhenti saya pakai sebagai titik-tolak sharing saya ini. Mula-mula cara bermeditasi itu menarik karena sederhana, tidak banyak tuntutannya : duduk dengan tenang, punggung lurus, mata tertutup tetapi tanpa memaksa keras-keras, dan mengulangi empat suku kata “MA-RA-NA-THA”. Tak usah pikir banyak atau mengkhayalkan sesuatu. Menarik kan ! Rupanya inilah cara yang cocok bagi saya. Ternyata meleset. Mengapa?

Dalam hati kecil saya seperti barangkali kebanyakan orang, mempunyai suatu harapan tertentu dengan menggunakan Meditasi Kristiani. Siapa tahu pikiran melayang akan berkurang atau malah hilang. Doa penuh konsentrasi! Wah itu saya rindukan. Doa ini bisa barangkali lebih memuaskan daripada cara-cara lain : buahnya mungkin memuaskan rasa hati saya.

Ketika saya renungkan lebih jauh ada beberapa hal menjadi jelas bagi saya. Hal-hal itu dapat saya ketahui dari buku-buku pengarang rohani, tetapi itu ternyata merupakan teori yang belum menyentuh hati sepenuhnya. Dengan mencoba Meditasi Kristiani saya menjadi sadar akan dua, tiga hal : cara ini memang sederhana, tetapi tidak mengusir segala pikiran melayang. Harapan pertama tidak tercapai. Rasa puas pun tidak kita peroleh. Itu harapan kedua yang gagal terwujud. Dan hal ketiga yang saya “peroleh” ialah bahwa saya lemah karena mudah berhenti bermeditasi, kurang disiplin.

Dari tiga pengalaman ini - syukurlah - saya bisa belajar. Ternyata yang mencari sesuatu dengan cara mudah (menurut pikiran saya) yang memuaskan hati saya. Singkatnya sumber kesulitan saya dan sebab mengapa saya berkali-kali berhenti dan mulai, berhenti dan mulai tak lain ialah egoisme saya. Saya mau menemukan suatu cara bermeditasi yang melenyapkan sekaligus segala kesulitan dan memberikan suatu rasa puas rohani. Jadi buah pertama dari usaha saya, kalau hal itu boleh disebut BUAH, ialahsaya menemukan betapa dalam akar egoisme saya. Rupanya mencari Allah, tetapi ternyata mencari diri saya sendiri. Apakah Allah boleh saya salahgunakan sebagai sarana atau alat untuk memperoleh rasa puas? Kalau saya renungkan lebih jauh, saya menjadi sadar bahwa sikap dasar saya harus berubah : mencari Allah demi Allah. Apa Meditasi kristiani bisa membantu saya untuk mengubah sikap dasar egois yang saya temukan ini?

Jawabannya saya peroleh dari inti Meditasi Kristiani. Saya tidak mau mengatakan bahwa solusi itu saya temukan waktu bermeditasi tetapi dengan refleksi atas cara meditasi itu. Jelas saya tidak boleh mencari “keadaan yang enak, bebas dari pikiran melayang, penuh dengan rasa puas hati berupa pikiran indah, perasaan mendalam dsb.”Ini suatu pengertian yang berbahaya juga. Mengapa ? Timbul pikiran, kalau tidak mendapat apa-apa dari latihan meditasi kristiani ini, apa gunanya meneruskan latihan itu ? Kalau diselidiki, maka menjadi jelas bahwa saya berhenti karena tidak puas, tidak merasa dapat apa-apa.

Tetapi dari situ saya bisa menarik kesimpulan pertama : selama motivasi saya untuk bermeditasi berbau egoisme, maka sebenarnya saya tidak berdoa. Padahal saya ingin berdoa. Maka perlu mengubah pikiran saya tentang doa sejati. Doa itu bagi saya kemudian dapat saya rumuskan singkat « merindukan Allah ». Ternyata itu berlawanan 100% dengan motivasi terselubung yang berbau egois itu.

Ketekunan atau disiplin dalam melakukan Meditasi kristiani yang begitu sederhana ( !) itu sebenarnya senjata ampuh melawan egoisme rohani itu. Itu saja sudah suatu alasan untuk tidak berhenti betapa kering rasa hati saya juga. Namun ini bukan hasil atau buah utama dan paling berarti. Lambat laun saya menyadari bahwa Allah tidak bisa kita kenal melalui pikiran apalagi dengan khayalan dan imajinasi. Secara teori saya sudah lama tahu itu, tetapi dorongan hati belum tunduk menyerah.

Pertanyaan utama bagi saya bagaimana saya dapat “mengenal Allah” atau ”bersatu dengan Dia” melalui Meditasi? Saya sendiri selalu sangat tertarik oleh pribadi Bartimeus, orang buta dari Lukas 18. Jelas ia tidak melihat teta[pi amat besar kerinduannya untuk bisa melihat. Caranya bagaimana? Ia tahu bahwa ia tidak dapat menyembuhkan kebutaan-nya sendiri. Siapa yang dapat? Ia mendengar orang lain berceritera tentang Yesus dari Nazareth yang menolong banyak orang sakit. Maka timbul dalam hatinya kerinduan untuk dapat bertemu dengan Dia. Ia yakin Yesus dapat dan mau membuka matanya. Tetapi Yesus dimana? Bagaimana ia dapat bertemu dengan Dia, mengingat bahwa ia seorang pengemis buta di pinggir jalan. Hatinya diliputi suatu harapan yang mendekati keputusasaan. Sampai hari Yesus mau masuk kota Yerikho melalui jalan dimana Bartimeus duduk sambil mengemis. Ia tanya mengapa orang berbondong-bondong lari ke jalan raya dan ramai bicara. Ia mendengar “Yesus dari Nazareth mengunjungi kota kita”. Kami (orang yang bisa melihat) mau melihat Dia. Harapan seakan-akan melonjak dalam hatinya : inilah saatnya. Maka ia berteriak dan tidak berhenti berteriak minta tolong, ketika orang banyak menyuruh dia diam.

Bagi saya orang ini mewujudkan iman-kepercayaan dan harapan secara sangat kongkret. Ia dibawa kepada Yesus. Ada dialog singkat “”Apa yang kau minta?” - “Supaya melihat!” IMANmu meyelamatkan engkau. Dan Ia melihat. Ia melihat YESUS di depannya dan mengikutiNya ke Yerusalem.

Sekali lagi peristiwa ini bagi saya penuh nakma, juga berkaitan dengan Meditasi Kristiani yang begitu sederhana (saya berseru dalam hati seperti Bartimeus dengan mantraku), tetapi begitu sulit selama saya tidak dapat bertemu dengan Yesus. Dan hanya ada satu cara untuk berjumpa dengan Dia. ialah IMAN dan HARAPAN di tengah-tengah “kebutaan rohaniku”. Dengan duduk dan mengulangi mantra, saya ungkapkan iman kepercayaan akan Yesus, tidak ada apa-apa lain. Itulah cara saya menyatakan harapanku akan Dia. Tak ada hal lain yang mau saya cari atau peroleh lagi. Tak perlu saya bebas dari pikiran melayang, tak perlu merasa puas. Aku duduk, miskin dan malang, tetapi penuh iman dan harapan bahwa kasih Yesus akan mendengarkan seruan-mantraku : MA-RA-NA-THA : Datanglah ya Tuhan.

Saya belum sampai tujuan. Tetapi ini saya peroleh dari bermeditasi kristiani dengan jatuh dan bangun. Keheningan ini sekaligus bagi saya ungkapan kemiskinan rohani saya dan penghayatan iman-kepercayaan dan harapan saya. Hanya Dia mau saya cari, meskipun sekarang ini pun masih dengan jatuh - bangun. Dia sajalah yang dapat membuka mata hati saya sehingga boleh melihat Dia dalam iman. Kasih Tuhan membuka hati hingga sayapun dapat mengasihi Dia dan dalam Dia semua orang.

Inilah pengalamanku yang sungguh menjadi pelajaran bagi saya. Sharing pengalaman saya ini hanya bertujuan membantu saudara-saudara lain. Barangkali kita semua mengalami kesulitan-kesulitan yang mirip. Pengalaman saya barangkali bisa membantu anda “duduk tekun di pinggir jalan sambil berseru Maranatha”. Tuhan Yesus akan lewat dan mendengarkan seruan kerinduan hati kita,. Itu keyakinan saya. Makin miskin kita, makin luas tempat bagi yesus dalam hati kita.

Batu, 27 September 2007


Sharing Lainnya:







Meditasi Kristiani Online:
Praktek dan Pengajaran Singkat
Six Week
Week 1:


Week 2:


Week 3

Week 4

Week 5

Week 6

Subscribe Youtube: Meditasi Kristiani Indonesia



YOUTUBE: