Home
Kalender Kegiatan Komunitas
Renungan Prapaskah 2018
Bacaan Harian Bersama John Main
Daily Wisdom
Weekly Teaching
Newsletter
Renungan Bacaan Injil
Bahan Pengajaran
> > Bahasa Indonesia
> > Bahasa Inggris
Cara Bermeditasi
Pokok Pengajaran
Oblat WCCM
Kerabat Meditator


Acara Khusus
Jadwal Pertemuan
Kolom Tanya Jawab
Berita & Foto
Sharing
Kepustakaan
Tentang Kami
Hubungi Kami















Links:
Bahasa Inggris
* WCCM
* Programme | Bonnevaux Centre for Peace
* School of Meditation
* Christian Meditation for Priests












Bahan Pengajaran:

Dari Emaus sampai Jerusalem

(6 April 2008)

Saudara-saudari yang terkasih. Dalam masa Paskah ini kita mendengar Injil tentang pengalaman dua murid Yesus yang pergi ke Emmaus. Kisah mereka sangat menarik. Kisah itu dapat menolong kita menekuni Meditasi Kristiani kita, khusus karena kita sering diganggu macam-macam pikiran melayang. Kita bisa saja digoda untuk tidak melakukan meditasi ini. Apa gunanya? Begitu sering waktu meditasi kita habiskan dengan berjoang melawan pikiran melayang dan fantasi kita. Itu pengalaman kita semua. Kita bisa merasa lelah, kurang puas, tak teribur. Pada saat seperti itu perlu kita ingat akan pengalaman dua murid ini.

Mereka meninggalkan Yerusalem dan memisahkan diri dari kumpulan murid lain. Mereka kembali ke tempat asalnya, Emmaus. Mengapa?Sebabnya tak lain ialah karena mereka sudah tidak mempunyai harapan lagi akan Yesus. Mereka tertarik kepada Yesus, Mereka mau mengikuti Dia, tetapi ternyata Yesus tidak memenuhi harapan mereka. Itu jelas mereka ungkapkan kepada orang asing yang mendampingi mereka dalam perjalanan. Itu Yesus sendiri tetapi mereka tidak mengenal-Nya kembali. Dalam percakapan dengan Yesus mereka berkata :'Padahal kami berharap bahwa Dialah yang akan membebaskan Israel !' Pikiran ini sangat melekat dalam hati mereka. Itulah yang disebut dalam Injil 'sesuatu yang menghalangi mereka mengenalNya kembali.' Jadi halangan itu tak lain ialah harapan palsu dan gambaran keliru yang mereka pegang teguh tentang Yesus. Namun itu samasekali tidak sesuai dengan Yesus yang sebenarnya. Yeus tidak datang membebaskan Israel dari penjajahan Romawi dan justeru itulah yang mereka harapkan. Gambaran mengenai Al Masih di dalam hati mereka bertabrakan dengan segala yang diberitahukan Yesus dalam perjalananNya ke Yerusalem tentang diriNya. Harapan itu jelas amat berlawanan dengan pengalaman mereka pada hari-hari terakhir. Yesus tidak membebaskan, malahan Ia ditangkap, dihukum mati dan disalibkan. Mereka yakin Yesus itu sudah mati. Ternyata Ia kalah daripada mengalahkan. Ia tidak memperoleh kemenangan atas musuh Israel . Itulah kurang lebih pikiran hati mereka. Itulah juga yang menghalangi mereka untuk mengenal Yesus yang menyertai dan mendampingi mereka dalam perjalanan ke Emmaus.

Pertama-tama Yesus berusaha mengosongkan hati mereka dari gagasan dan harapan mereka yang keliru itu. Hanya dengan begitu Ia dapat menolong mereka untuk mengenalNya sebagai Al Masih yang harus menderita dan dengan demikian masuk ke dalam kemuliaanNya. Yesus menerangkan Kitab Suci yang berbicara tentang Al Masih. Menurut para nabi dan buku mazmur Yeus harus menderita. Ia menanggung dosa-dosa kita untuk membebaskan kita dari kuk dan beban dosa itu. Ia menyerahkan diri bagi kita dan semua orang demi pengampunan dosa. (Kata konsekrasi dalam perayaan Ekaristi). Ketika Yesus menjelaskan itu, hati mereka memang sudah mulai berkobar-kobar,tetapi baru mereka mengerti ketika Yesus di rumah mereka mengam-bil roti, mengucap syukur, memecahkan roti itu dan memberikannya kepada mereka. Itulah Yesus, orang yang memberikan seluruh diri-Nya kepada kita agar kita dapat hidup dalam kelimpahan.

Nah para saudara/-i ytk. Dalam Meditasi Kristiani kita diajak untuk meng-ulangi mantra :MA-RA-NA-THA. Kata asing, berasal dari bahasa Aram , bahasa yang dipakai Yesus sendiri. Tujuannya ialah agar kita memusatkan perhatian kita pada kata itu dan jangan pada pikiran, gagasan, harapan kita betapa suci juga. Bukan karena pikiran dan harapan itu pasti buruk. Alasannya melalui mantra itu kita diharapkan dapat menciptakan suatu 'kekosongan hati' dalam diri kita. Artinya supaya kita jangan melekat pada pikiran, gagasan atau harapan kita tentang Tuhan. Mata kedua murid yang kembali ke Emmaus dihalangi untuk mengenal Yesus karena hati mereka penuh dengan pikiran dan harapan mereka sendiri. Padahal semuanya tidak sesuai dengan Yesus yang diutus oleh Bapa untuk menyelamatkan kita. Harapan palsu harus dibuang lebih dahulu supaya mereka dapat memahami firman Tuhan dan mengerti arti pemecahan roti, yak tak lain ialah Yesus sendiri yang memberikan diri secara total demi keselamatan umat manusia. Demikian kita tak boleh berpegang teguh pada pikiran dan harapan buatan kita sendiri. Itu akan menghalangi kita untuk mengenal Yesus pada saat Ia menyatakan diri-Nya kepada kita, bukan dalam penglihatan atau gagasan mulia, melainkan sebagai Kasih yang memberikan diri-Nya. Dengan mengulangi mantra serta memusatkan perhatian kita pada kata atau suku-kata itu, sebenarnya diharapkan kita rela melepaskan segala pikiran dan harapan kita sendiri tentang Yesus. Bayangkan saja, para saudara-saudari : hanya botol kosong yang bisa diisi dengan air, anggur atau apa saja. De-mikian hati kita hanya dapat mengenal Yesus sejati pada saat Ia mau memperkenalkan diri-Nya, jika hati kita kosong dari segala macam pikiran, gagasan, harapan buatan kita sendiri tentang Dia. Ia diutus Bapa bukan untuk membantu kita dalam urusan rumah tangga, usaha atau pekerjaan kita, bukan untuk memenuhi segala macam keinginan dan permohonan kita yang belum tentu benar, berguna atau baik bagin kita. Ia mau mencurahkan kasih ilahi ke dalam hati dan hidup kita, bukan menurut gambaran kita, melainkan menurut rencana BapaNya. Ia diutus untuk mengumpulkan dan menyatukan semua orang menjadi satu keluarga yang Allah sendiri Bapanya. Hati kita harus makin terbuka untuk rencana kasih Allah ini. Sesama manusia akan makin berarti bagi kita berkat meditasi ini.

Dengan memperhatikan mantra,kita membuka jalan bagi Tuhan, yang mau masuk ke dalam hati kita. Perlu kita belajar dari kedua murid Emmaus itu. Sebagaimana hati mereka harus dikosongkan dari gagasan dan harapan mereka, demikian juga halnya dengan hati kita:Yesus lain daripada kita duga

Hati kita kosongkan dalam Meditasi Kristiani dengan menaruh seluruh perhatian kita pada kata 'MA-RA-NA-THA : TUHAN DATANG. Kapan? Tuhan yang mengetahuinya. Kita menantikan dengan sabar dan tekun, dengan iman akan janji-Nya.

Ini bukan bahan untuk direnungkan waktu meditasi. Ini hanya bantuan sekedar untuk bertekun dalam meditasi.




Bahan Pengajaran Lainnya:







Meditasi Kristiani Online:
Praktek dan Pengajaran Singkat
Six Week
Week 1:


Week 2:


Week 3

Week 4

Week 5

Week 6

Subscribe Youtube: Meditasi Kristiani Indonesia



YOUTUBE: