Home
Kalender Kegiatan Komunitas
Renungan Prapaskah 2018
Bacaan Harian Bersama John Main
Daily Wisdom
Weekly Teaching
Newsletter
Renungan Bacaan Injil
Bahan Pengajaran
> > Bahasa Indonesia
> > Bahasa Inggris
Cara Bermeditasi
Pokok Pengajaran
Oblat WCCM
Kerabat Meditator


Acara Khusus
Jadwal Pertemuan
Kolom Tanya Jawab
Berita & Foto
Sharing
Kepustakaan
Tentang Kami
Hubungi Kami















Links:
Bahasa Inggris
* WCCM
* Programme | Bonnevaux Centre for Peace
* School of Meditation
* Christian Meditation for Priests












Bahan Pengajaran:

Minggu Paskah Ketiga

SUATU JALAN MENUJU KEHIDUPAN SEJATI.
Menghayati pesan : Hari Minggu Paska Ketiga Tahun A
Luk 24: 15-25
" Mendengarkan sungguh-sungguh "



Seorang anak kecil bersama ibunya ada di kota siang hari. Mereka masuk suatu restoran untuk mencari snack. Ketika pelayan datang, ibu itu mulai memesan tetapi pelayan melihat bahwa si kecil ingin mengatakan sesuatu.

"Biarlah si kecil mengatakan sendiri apa yang ia inginkan", kata pelayan. "Saya minta hamburger", kata si kecil. Ketika pelayan pergi untuk mengambil pesnan, anak itu berkata: "Ibu tahu, orang itu menghargai saya sungguh-sungguh."

Tak ada apapun lebih meyakinkan daripada didengarkan. Inilah yang memberi seseorang kenyataan, perasaan siapa sebenarnya dia itu. Tak ada sesuatupun lebih menyakitkan daripada tidak didengarkan Tidak difahami, terutama bila seseorang berusaha mengungkapkan pera-saannya yang dalam, sakit hatinya atau kebutuhannya. Coba bayangkan berkata kepada sese-orang: "Saya sekarang masuk untuk menerima hasil pemeriksaan saya. Dokter mengira saya punya kangker," dan orang lain menjawab: "Saya berharap toko pojok itu buka, saya ingin membeli rokok."

John Main biasa memahami bahwa salah satu penderitaan Yesus yang besar adalah bahwa orang tidak mau menanggapi kasihNya yang besar terhadap mereka. Seperti, pada Perjamuan Akhir Dia mencoba membagikan kasih dan rasa takutNya menjelang kematianNya kepada murid-muridNya, tetapi mereka lebih memikirkan tentang siapa yang menduduki tempat tertinggi dalam KerajaanNya.

Bila kita melihat bentuk-bentuk kerasulan yang saat ini nampaknya tepat guna, kita akan menemukan bahwa unsur pokok dalam kerasulan itu adalah mendengarkan. Sekarang ini terdapat 200 kegiatan berdasarkan pandangan kelompok Alcoholics Anonymous (yang lepas kebiasaan peminum), Gamblers Anonymous (bekas penjudi), Overeaters Anonymous (bekas pelahap), Women Hurt by Abortion (perempuan yang pernah melakukan aborsi), dsb. Dinamika pokok dalam semua ini adalah didengarkan oleh orang lain yang disebut lemah, yang tidak mengancam. Demikian juga, mendengarkan adalah dasar bagi Pendidikan Pastoral Klinis, Marriage Encounter (ME), Latihan Rohani St. Ignatius dan bentuk apapun konseling pastoral atau pembinaan rohani.

Bila seseorang ingin berhasil dalam pelayanan, tuntutan pertama adalah pandangan positif dan kasih terhadap orang-orang yang diajak bekerjasama. Tidak ada jalan yang lebih baik untuk peneguhan orang dan menunjukkan kasih dan pandangan positip daripada dengan men-dengarkan mereka dan menunjukkan bahwa anda telah mendengarkan. Sebab yang sangat sering terjadi, kegagalan kita sebagai gembala adalah bahwa kita tidak berhasil mengko-munikasikan kasih kita terhadap orang-orang kita. Salah satu cara melakukan ini adalah mendengarkan mereka dengan penuh perhatian. Suatu ketika saya berkotbah mengenai "orang-orang kudus yang baru kujumpai". Saya menyebut beberapa orang di paroki yang merawat lanjut usia , orang sakit dan yang memiliki aneka macam penderitaan. Saya heran akan reaksi positip terhadap kotbah. Umat merasa sangat diteguhkan. Seakan mereka berkata "Memang baik mendengar anda yang mendengarkan hidup kami."

Kita tidak dapat sependapat dengan orang lain dan mendengarkan mereka kecuali ada keheningan dalam diri kita. Bila kita tidak berada dalam diri sendiri, pikiran kita akan melayang ke penjuru yang berbeda. Kita akan memutus hubungan dengan mereka bila peristiwa apapun disentuh yang tidak kita akrabi.

Tidak mungkin bagi kita berkomunikasi secara baik dengan orang-orang bila kita tidak mendengarkan mereka. Pesan kita hanya dapat menyentuh mereka bila mereka dapat mendengar pengalaman mereka sendiri dalam komunikasi itu Komunikasi yang baik merupakan timbal balik dengan cara teratur apa yang orang katakasn dengan cara tak teratur. Saya mengalami bahwa bila ingin mengetahui apa yang terjadi dalam paroki, adalah sangat penting mendengarkan setiap orang, tetapi khususnya mereka yang mabuk atau secara mental tidak stabil, Rintangan yang mereka miliki kurang dan dapat memberi kita kebenaran bahwa perlu mendengarkan secara terus terang bila kita memiliki telinga untuk mendengarkannya.

Parfa imam dan biarawan terkenal sebagai pendengar yang tidak baik. Orang-orang memandang kita memiliki jawaban-jawaban sepertinya mengerti segalanya. Kita cenderung menerima dan memasukkan ke dalam hati gambaran ini dan dengan demikian kita mengira tidak perlu mendengarkan.

Memang kita tidak bisa menyampaikan Tuhan kepad orang lain, kecuali kita mendengarkan pesanNya dalam SabdaNya dan keheningan. Bila kita berlanjut mengucapkan mantra dan mengesampingkan pikiran melayang, Sabda Allah bekerja dalam kedalaman kita. Bila kita berbicara kita akan heran darimana datangnya kebijaksanaan.

Pertama kali kita mendengar Yesus berbicara, kita mendengar kebijaksanaanNya dan kemam-puanNya untuk mendengar. Ketika Maria dan Yusup menemukan mereka di bait Allah, Dia "mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan kepada mereka." Karena Dia mendengarkan mereka, para guru mendengarkanNya dan heran akan kebijaksanaan jawaban yang Ia berikan.

Berkali-kali dalam karyaNya, kita melihat Yesus mendengarkan orang lain dan membiarkan atau bahkan mendorong mereka mengungkapkan kesulitan dan kebutuhan mereka. Mungkin contoh pelayananNya yang agung lewat mendengarkan yang Yesus berikan kepada kita adalah ketika Dia menggabungkan diri pada muridNya dalam perjalanan ke Emaus sesudah bangkit dari alam maut. Murid-murid terpukul, meninggalkan Yerusalem, saat mereka mengalami kegagalan dan impian mereka tak teruwujud. Sedemikian susah mereka itu sampai tidak mengenal Yesus lagi yang berjalan dengan mereka. Dia bertanya kepada mereka mengapa sangat susah. Mereka menjawab: "apakah engkau satu-satunya yang tdak tahu apa yang terjadi?" "Apa yang terjadi?", Dia bertanya. Lalu mereka mengisahkan kisah mereka kepadaNya. Sesudah mendengarkan mereka, Dia menunjukkan kepada mereka apa yang Kitab Suci katakan mengenai Mesia dan bagaimana Dia harus menderita. Dengan demikian mereka mulai melihat bahwa kesimpulan lain dapat ditarik dari peristiwa-peristiwa itu. Inilah yang seharusnya terjadi. Kristus memang sungguh bangkit. Kisah pencampakan menjadi kisah harapan. Hanya ketika Dia mendengarkan mereka, mereka dapat mendengarkan Dia.

Kisah Emaus adalah contoh untuk pelayanan kita. Suatu model mendengarkan yang harus kita tekuni. Kita harus mampu mendengarkan orang lain tanpa gagasan yang menyeleweng, tanpa menilai atau mengadili, tanpa gelisah tentang jawaban kita, tanpa membela diri, tanpa menyo-dorkan ego dan rencana sendiri sembari percaya bahwa Allah akan memberi kita jawaban yang tepat bila diperlukan. Dalam mendaras mantra kita mendengarkan "biarkan pergi" semua yang merupakan hasil ego sendiri. Bila kita memberi perhatian kepada mantra, mendengarkannya bergema dalam diri sendiri, kita juga menjadi lebih hadir pada diri sendiri, orang lain dan pada Allah dan semakin siap menjadi alatNya.




Bahan Pengajaran Lainnya:







Meditasi Kristiani Online:
Praktek dan Pengajaran Singkat
Six Week
Week 1:


Week 2:


Week 3

Week 4

Week 5

Week 6

Subscribe Youtube: Meditasi Kristiani Indonesia



YOUTUBE: