Home
Kalender Kegiatan Komunitas
Renungan Prapaskah 2018
Bacaan Harian Bersama John Main
Daily Wisdom
Weekly Teaching
Newsletter
Renungan Bacaan Injil
Bahan Pengajaran
> > Bahasa Indonesia
> > Bahasa Inggris
Cara Bermeditasi
Pokok Pengajaran
Oblat WCCM
Kerabat Meditator


Acara Khusus
Jadwal Pertemuan
Kolom Tanya Jawab
Berita & Foto
Sharing
Kepustakaan
Tentang Kami
Hubungi Kami















Links:
Bahasa Inggris
* WCCM
* Programme | Bonnevaux Centre for Peace
* School of Meditation
* Christian Meditation for Priests












Bahan Pengajaran:

Minggu Palma

PERJALANAN PEMURNIAN Mat 21: 1-11

Seorang imam misionaris memiliki perhatian besar terhadap pendidikan. Selama 40 tahun ia menolong orang muda lewat kolese dengan rencana belajar-sekarang-bayar-kemudian. Banyak pendidik daerah itu dalam pekerjaan berhutang budi kepadanya dan tak pernah berhenti memuji dia. Tetapi waktu berubah. Belum lama, para guru membentuk suatu perhimpunan dan mengadukan sekolah yang berkaitan dengan misionaris itu. Banyak yang berteriak untuk pem-balasan atau minta uang adalah mantan muridnya. Tentu saja ini sangat menyusahkan imam misionari itu. Hal ini merupakan pengalaman Pekan Suci yang mengingatkan akan yang telah terjadi pada diri Yesus ; pada Hari Minggu Palma ketika orang banyak menyerukan "Hosanna"; pada Jumat berikutnya ketika mereka berteriak : "Salibkanlah dia, salibkanlah Dia"

Pengalaman seperti ini biasa dalam perjalanan rohani. Saya tidak tahu bagaimana imam yang terlibat itu menanggapi krisis ini. Bagi seorang yang kurang mendalam hidup rohaninya, hal ini dapat merupakan kesempatan kecewa, tertekan, kurang semangat dalam karya, mengundurkan diri dalam sinisme. Bagi seorang yang berusaha berada dalam kehadiran yang lebih mendalam dengan Tuhan, hal ini dapat merupakan pengalaman pembersihan, pemurnian, suatu pengalam-an yang oleh St. Yohanes dari Salib disebut "Malam Jiwa yang Gelap. ". Tak seorangpun dari kita bagai bunga bakung putih dalam sikap mementingkan orang lain. Kita dapat saja mencari pujian, sanjungan, baik dari luar maupun dari dalam diri sendiri, bahkan dalam hal luhur yang kita kerjakan. Bila kita merasa "Bapa, mengapa Engkau telah mengungkiri aku?", orang yang dewasa rohaninya akan terpisah dari anak-anak yang mencari diri sendiri. Dalam penderitaan bagaikan pencobaan, kita harus berhadapan dengan kepalsuan diri dan tiadanya maksud yang murni. Setiap orang memprotes kejujurannya sendiri dan satu dari kejutan besar dalam hidup adalah menemukan sikap bermuka dua kita. Namun menerimanya dapat merupakan kebang-kitan kita.

Bila salib menimpa kita, apakah Tuhan menghukum atau memurnikan kita? Saya kira jawaban yang kita berikan tergantung banyak dari cara kita berdoa. Bila kita berdoa agar Tuhan memberi apa yang kita perlukan, kita melihat sebagai hukuman bila tidak menerima apa yang kita minta. Tetapi bila kita berdoa mencari kehendakNya, terbuka sepenuhnya terhadap Dia seperti yang kita coba dalam meditasi, kita akan menemukan perhatian dan kasih Allah bahkan dalam peris-tiwa penuh penderitaan dalam hidup.

Belum lama saya mengunjungi seorang dokter gigi dan disana ada seorang ibu bersama anaknya yang berumur tiga tahun. Ketika dipanggil masuk, anak itu berteriak dan ingin lari. Jelas, ibu itu mencintai anaknya dengan membawanya ke dokter gigi tetapi sangat sulit untuk meyakinkan dia bahwa ini memang benar.

Kita yakin bahwa Allah selalu mengasihi kita tetapi tidak selalu mudah melihat bahwa ini benar. Terkadang Allah nampak sangat kejam terhadap dunia bila Dia mengiznkan perang, kelaparan dan penderitaan yang muncul karena gunung yang meletus. Terkadang ia nampak sngat kejam terhadap perorangan bila Dia mengizinkan adanya penyakit, kegagalan dan kematian seseorang tercinta.

Terkadang orang-orang yang dekat dengan Tuhan lebih sulit menerima ini dibandingkan orang lain. Belum lama, saya mendengar seorang berkata; "Saya ragu-ragu menyerahkan diri kepada Tuhan; nampaknya semakin kita berbuat demikian, semakin banyak kita dicobai." Kesan bahwa beberapa menderita lebih bila dekat dengan Tuhan, sebagian karena orang mempunyai pengha-rapan yang berlawanan. Banyak yang mengira bahwa karena berdoa, Allah harus memanjakan mereka, bahwa Allah harus mengambil semua masalah mereka. Bial ini tidak terjadi mereka sangat kecewa, mereka merasa Allah telah menjatuhkan mereka karena Dia tidak memenuhi harpan mereka . Kisah Pekan Suci hendaknya meniadakan harapan kita dimanjakan Allah. Bila Yesus Anak Allah harus menderita, siapa kita yang berharap untuk dibebaskannya?

Allah menginginkan kita berkembang, matang dan mengarah ke orang lain. Hal ini tidak akan pernah terjadi bila dunia kia sempujrna. Bila kita serba kecukupan kita tidak akan pernah tertantang bermurah hati satu terhdap yang lain. Bila tak seorangpun jatuh sakit dan meninggal, dunia akan semakin banyak penduduknya dan orang tidak perlu menyelamatkan diri.

Surat kepada orang-orang Ibrani 12: 6 mengatakan: karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." Ini sering sulit difahami dan diterima tetapi pada umumnya memang benar. Konon dikisahkan bahwa St. Teresa dari Avila mengeluh mengenai cara Allah memperlakukan dia. Allah bersabda: "Aku memperla-kukan engkau seperti itu karena engkau sahabatku". Ia menjawab: "Tak mengherankan Engkau memiliki sedikit sahabat, bila itu caraMu memperlakukan mereka!" Apa kita meiliki cukup iman untuk melihat kasih Allah dalam tantangan dan hukuman yang dikirim Allah kepada kita? Atau kita seperti anak kecil yang tidak dapat melihat kasih ibunya yang membawanya ke dokter gigi?

Misteri Rosario yang meringkas kisah penyelamatan Yesus dapat merupakan pardigma perja-lanan kita. Bisa merupakan perjalanan hidup, pernikahan, suatu relasi, pekerjaan atau belajar bermeditasi. Hampir selalu Kisah Pekan Suci. Kita mengawali dengan kegembiraan dan entusias. Mengalami sukses. Kemudian kesulitan muncul dan bahkan kita merasakan kematian. Inilah Peristiwa Duka. Bila seorang sabar dan dituntun dengan baik dalam mengarungi penderitaannya, dia akan masujk dalam kemuliaan, suatu pengalaman damai yang diatas segala kegembiraan dan yang tidak akan hilang bila kita berhadapan dengan badai dalam perjalanan. Bagiku tekun dalam dua kali bermeditasi sehari juga merupakan satu dari jaminan ketekunan kita dalam perjalanan dari kegembiraan melewati kematian, melewati kebangkitan dan menuju kemuliaan.




Bahan Pengajaran Lainnya:







Meditasi Kristiani Online:
Praktek dan Pengajaran Singkat
Six Week
Week 1:


Week 2:


Week 3

Week 4

Week 5

Week 6

Subscribe Youtube: Meditasi Kristiani Indonesia



YOUTUBE: