Home
Kalender Kegiatan Komunitas
Renungan Prapaskah 2018
Bacaan Harian Bersama John Main
Daily Wisdom
Weekly Teaching
Newsletter
Renungan Bacaan Injil
Bahan Pengajaran
> > Bahasa Indonesia
> > Bahasa Inggris
Cara Bermeditasi
Pokok Pengajaran
Oblat WCCM
Kerabat Meditator


Acara Khusus
Jadwal Pertemuan
Kolom Tanya Jawab
Berita & Foto
Sharing
Kepustakaan
Tentang Kami
Hubungi Kami















Links:
Bahasa Inggris
* WCCM
* Programme | Bonnevaux Centre for Peace
* School of Meditation
* Christian Meditation for Priests












Bahan Pengajaran:

Apakah yang kamu cari? (Yoh 1:38)

Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!" Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?" Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia. (Yoh 1: 35-39)

Akhir-akhir ini terdengar berita bahwa ada beberapa kelompok Meditasi Kristiani yang mencoba menggabungkan latihan meditasi dengan Lectio divina atau dengan Adorasi Sakramen Mahakudus. Ada pula yang ingin mengaitkannya dengan doa-doa penyembuhan atau latihan pernafasan tertentu.

Pertama ingin saya menegaskan bahwa Lectio Divina merupakan suatu latihan rohani yang amat baik dan mempunyai sejarah yang panjang, khususnya dalam kehidupan monastik di biara-biara kontemplatif. Tujuannya sangat baik yakni agar melalui lectio kita tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang Kitab Suci (pengetahuan lebih cocok diperoleh dari Kelompok atau Kursus Kitab Suci), tetapi terutama untuk mengenal dengan hati dan budi Tuhan Yesus, Sang Sabda itu sendiri. Santo Hironimus sudah menegaskan bahwa orang yang tidak mengenal Kita Suci, tidak mengenal Kristus. Sampai sekarang ini Lectio Divina ini masih tetap dijalankan di banyak biara.

Kita juga sering mendengar tentang anjuran untuk penghormatan Sakramen Mahakudus atau yang lebih sering disebut Adorasi. Dengan sikap iman yang penuh hormat dan kerinduan untuk membalas kasih Tuhan, kita mau diam di hadapan Dia yang menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya bagi kita. Ungkapan syukur dan kasih yang patut dipuji. Syukurlah bahwa di beberapa kota Adorasi sudah mendapat tempatnya dalam hidup orang beriman.

Begitu juga bermunculan kelompok-kelompok doa penyembuhan. Banyak orang datang kepada Yesus waktu Ia bersama murid-murid-Nya berkeliling di tanah Galilea. Ia malah mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Injil, mengusir setan dan menyembuh-kan orang sakit. Dewasa ini Gerakan pembaharuan Kharismatik juga membantu banyak orang untuk memperoleh kesembuhan. Siapa mau melarang orang untuk berdoa agar sesamanya menjadi sembuh? Walaupun demikian pada akhirnya doa untuk memohon kesembuhan harus kita serahkan sepenuhnya kepada Tuhan.

Daftar ini masih bisa diperpanjang dengan tujuan sampingan lainnya dari Meditasi, seperti yang sering kita baca di media cetak maupun audiovisual yaitu manfaat yang seringkali mencari sesuatu untuk diri sendiri, misalnya: kekuatan batin yang luar-biasa, bebas dari stress, kesehatan seperti menurunkan tekanan darah dsb. Ini jelas tidak perlu dibahas di Komunitas Meditasi Kristiani. Terlalu jelas bahwa dalam kasus-kasus terakhir itu ego lebih dipentingkan daripada Tuhan. Di situ berlaku apa yang pernah di tulis oleh Dom Anselm Grün, O.S.B. "Menemukan identitas diri (atau dengan kata lain mengenal diri sendiri)". Tujuan ini mendorong banyak orang untuk mengikuti berbagai latihan psikologis, latihan konsentrasi dan meditasi. Para rahib kuno tidak bermaksud mencari identitas diri mereka. Mereka mencari Allah, bukan dirinya sendiri. Bila kita mencari identitas kita, maka diri kita menjadi pusat perhatian dan usaha kita." (Doa dan Mengenal Diri, hlm 11, Kanisius 1985).

Tentu orang mengikuti Lectio Divina atau bersembah-sujud di hadapan Sakramen Mahakudus menandakan bahwa seseorang ingin berjumpa dengan Allah. Orang yang mendoakan sesama agar sembuh, mau membantu orang lain, bukan dirinya sendiri. Kenapa lalu tak tepat kalau digabungkan dengan latihan Meditasi Kristiani? Ketika kita mendapat pengajaran tentang "Roda Doa", salah satu topik pengajaran dalam program 6 minggu, disitu dikatakan bahwa semua doa itu baik. Roh Kudus selalu hadir dalam doa sejati. Doa-doa yang banyak jenis dan bentuknya itu akan bertemu di poros roda yaitu Kristus. Kalau saya lanjutkan renungan saya mengenai roda doa, saya melihat bahwa jari-jari roda mempunyai jarak satu dengan yang lain. Bayangkan saja kalau roda hanya mempunyai satu jari-jari! Atau beberapa jari-jari akan bertumpuk di satu tempat! Jadi semua doa sejati yang dilakukan dengan penuh iman dan karena kasih akan Tuhan adalah doa yang baik, meskipun jenis dan bentuknya berbeda. Namun kurang tepat kalau semuanya digabungkan. Doa Rosario itu baik, itu sejenis doa meditatif, namun jangan digabungkan dengan Adorasi atau dengan Lectio. Demikian juga tidak tepat kalau digabungkan dengan Meditasi Kristiani. Perayaan Ekaristi lain dengan Adorasi, sehingga menurut peraturan liturgi selama perayaan Ekaristi tidak boleh diadakan pentakhtaan Sakramen Mahakudus untuk tujuan Adorasi. Pada saat itu pun kita tidak berkumpul untuk berbagi pengalaman tentang bacaan Kitab Suci.

Meditasi Kristiani adalah doa, warisan para rahib yang benar-benar hanya mencari Tuhan. Kepada mereka Kasianus dan kawannya Germanus, minta diajarkan untuk berdoa dengan tiada hentinya. Dan inilah inti ajaran Rahib Isak : Doa dengan menggunakan satu kata yang diulang-ulang dengan tekun. Pada saat itu mereka tidak dianjurkan melakukan doa-doa lain walaupun doa itu indah dan bagus. Demikian Dom John Main OSB, guru Meditasi Kristiani menekankan agar kita waktu bermeditasi, hanya memperhatikan keempat suku kata (ma-ra-na-tha); jadi tidak menambah doa lain disana sini. Dom John Main sendiri adalah seorang rahib, tentu tidak meremehkan Lectio Divina, dan sukar dibayangkan kalau ia tidak menjunjung tinggi Adorasi, namun waktu bermeditasi, kita melulu bermeditasi dan tidak membaca Kitab Suci dan tidak ber-Adorasi. Masing-masing ada waktunya sendiri-sendiri.

Selain itu sebaiknya kita bertanya pada diri kita : Mengapa meditasi kita mau digabungkan dengan berbagai jenis doa lain. Kalau kita berdoa rosario, kita tidak akan membaca Kitab Suci, meskipun merenungkan peristiwa-peristiwa dari Injil! Seandainya kira merasa kurang puas dengan meditasi kita atau kita merasa belum berdoa, saya anjurkan agar masuk ke dalam hati dan bertanya apakah saya benar-benar mau berdoa tanpa pamrih, dengan tidak mencari sesuatu yang memuaskan diri saya? Meditasi dengan tekun mengulang-ulangi mantra mau "mematahkan kuasa ego". Jangan kita melayani ego meskipun itu ego rohani, sebab ego bisa muncul di mana-mana dengan mencari suatu pengalaman indah, atau mengisi waktu dengan suatu kegiatan, seakan-akan diam di hadapan Tuhan tidak gunanya dsb. Ini semua tetap berlawanan dengan tujuan kita bermeditasi, yaitu Tuhan adalah satu-satunya yang kita cari!

Ditulis oleh Romo Cyprianus Verbeek O Carm Batu, 6 Oktober 2010


Bahan Pengajaran Lainnya:







Meditasi Kristiani Online:
Praktek dan Pengajaran Singkat
Six Week
Week 1:


Week 2:


Week 3

Week 4

Week 5

Week 6

Subscribe Youtube: Meditasi Kristiani Indonesia



YOUTUBE: