Home
Kalender Kegiatan Komunitas
Renungan Prapaskah 2018
Bacaan Harian Bersama John Main
Daily Wisdom
Weekly Teaching
Newsletter
Renungan Bacaan Injil
Bahan Pengajaran
> > Bahasa Indonesia
> > Bahasa Inggris
Cara Bermeditasi
Pokok Pengajaran
Oblat WCCM
Kerabat Meditator


Acara Khusus
Jadwal Pertemuan
Kolom Tanya Jawab
Berita & Foto
Sharing
Kepustakaan
Tentang Kami
Hubungi Kami















Links:
Bahasa Inggris
* WCCM
* Programme | Bonnevaux Centre for Peace
* School of Meditation
* Christian Meditation for Priests












Bahan Pengajaran:

Mengapa meditator menyebut kata-doa sebagai 'mantra'?

Mantra membawa kita ke saat kini, melampaui ego kita dan menyelinap masuk melalui gerbang sempit memasuki kota Tuhan. (John Main, 'Word Made Flesh')

I

Tradisi doa 'monologistos' - doa yang menggunakan satu kata-suci yang diucapkan secara berulang-ulang dengan penuh iman di dalam hati dan pikiran kita - merupakan suatu tradisi doa Kristiani yang dihormati. Doa ini mungkin berawal dari penghormatan kepada nama Yesus (supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi. Fil 2: 10). Penggunaan 'Nama Suci' ini kemudian berakar dalam berbagai bentuk hesychasm dan Doa Yesus dari Gereja Orthodoks. Dalam Gereja Barat, guru pertama dari doa ini adalah Yohanes Kasianus.

Penjelasan secara rinci bentuk doa ini pertama kali ditemukan dalam tradisi Padang Gurun dalam Konferensi X dari Kasianus. Di sini ia menganjurkan sebuah kalimat yang diambil dari Kitab Mazmur 69: 2: 'Ya Tuhan bersegeralah menolongku'. St. Benediktus kemudian mengambil ayat ini sebagai doa pembuka dari Doa Ofisi . Seribu tahun kemudian di Inggris, seorang pengarang tak dikenal menulis buku 'The Cloud of Unknowing' yang menganjurkan bentuk doa yang sama tetapi menyarankan penggunaan satu kata bersuku kata tunggal seperti 'God'.

Dalam abad ke duapuluh, Pater John Main mewarisi dan meneruskan tradisi yang sama, menyarankan kata-doa Kristiani 'Maranatha'. Kata ini berasal dari Kitab Suci Perjanjian Baru yang berarti 'Datanglah Tuhan' (1 Kor 16: 22), dalam bahasa yang digunakan oleh Yesus, bahasa Aram, dan merupakan kata-suci dalam liturgi umat Kristiani perdana. Ada banyak contoh lain dari kata-kata doa yang disarankan dalam sejarah doa Kristiani yang menggambarkan zaman tertentu atau kepribadian guru doa yang membimbing orang untuk diam dan hening kontemplatif di dalam hati. Tradisi ini umumnya menekankan pada pengulangan kata secara terus menerus yang diucapkan dengan iman dan kesetiaan yang semakin mendalam pada kata yang sama sehingga kata tersebut berakar dalam hati dan membuka rahmat kontemplasi - kita masuk dalam doa Yesus sendiri dalam Roh Kudus.

Mereka yang menggunakan nama Yesus akan menyebut kata tersebut 'Nama' atau 'Nama Kudus'. Kasianus tidak menyarankan untuk menggunakan nama dan ayat yang dia sarankan disebut sebagai 'formula'. Istilah ini berarti 'aturan atau prinsip'. Yaitu, 'formula' tidak secara khusus memiliki arti suci tetapi menunjuk kepada suatu pola atau penggunaan dasar dari kata yang sama yang diucapkan dengan setia dalam semua keadaan pikiran dan membimbing orang yang berdoa untuk menjadi miskin dihadapan Allah.

Pater John Main menyebut kata-doa sebagai 'kata' atau 'mantra'. Mengapa ia menggunakan istilah 'mantra' terutama karena istilah ini dihubungkan dengan bentuk meditasi dari Timur?

Untuk memahaminya, kita perlu mengingat latar belakang di mana John Main secara pribadi menemukan kembali dan pertama kali mengajarkan meditasi dalam tradisi Kristiani. Sebelum memasuki kehidupan monastik, John Main pertama kali mengenal praktek doa ini di Timur meskipun dia selalu mempraktekkannya sebagai bentuk doa Kristiani. Di sanalah ia pertama kali berkenalan dengan istilah 'mantra' yang mengandung pengertian sebagai suatu 'kata atau formula yang disenandungkan atau dinyanyikan sebagai doa'. Dua puluh tahun kemudian ketika ia membaca ulang Kasianus dan menemukan jalan doa ini dalam tradisi Kristiani, dia memulai kembali praktek doanya dan dibimbing untuk melihat meditasi sebagai jawaban atas kebutuhan akan spiritualitas Kristiani masa kini.

Pada tahun 1975, berbagai bentuk meditasi Timur telah menjadi cukup populer di Barat, terutama Meditasi Transendental. Oleh karena itu kata mantra mulai dikenal dan digunakan dalam bahasa populer. Sekarang ini kata tersebut sudah dimasukkan dalam kosa-kata Kamus Bahasa Inggris (Oxford English Dictionary), yang berarti 'teks atau kalimat suci' dan pertama kali digunakan pada tahun 1801. Sekarang ini kata itu sering digunakan untuk mengacu pada janji-janji politik yang diucapkan secara berulang-ulang oleh para politisi

II

Beberapa orang yang mendengar penggunaan kata 'mantra' sehubungan dengan doa Kristiani mungkin menjadi ragu atau merasa bingung karena dikaitkan dengan tradisi meditasi dari Timur. Sejak 1975, sejak Pater John Main menggunakan kata mantra sebagai istilah Kristiani tanpa mengacu secara khusus pada tradisi Timur, bagaimanapun juga kata itu telah menjadi umum bagi banyak umat Kristiani. Sekarang kita dapat mengatakan bahwa kata tersebut sudah masuk dalam kosa-kata spiritualitas Kristiani.

Begitu juga halnya dengan penggunaan kata 'meditasi' yang di ambil dari akar tradisi Kristiani, juga perlu ditemukan kembali dan dimengerti dalam arti yang asli dan lebih kontemplatif. Bagi banyak umat Kristiani, 'meditasi' menjadi terbatas pada doa mental, pemakaian pikiran dan imajinasi terutama dalam merenungkan Kitab Suci. Ini adalah bentuk doa yang paling sering disarankan untuk dilakukan - dan juga kadang-kadang lebih baik dikatakan sebagai 'lectio'. 'Meditasi' dalam arti aslinya mengarah pada doa non-diskursif, hening, tanpa gambaran atau kontemplasi juga dipopulerkan di Barat pada masa kini melalui metode-metode dan spiritualitas dari Timur. Tantangan yang ditunjukkan oleh Pater John Main adalah untuk memulihkan dan mengembalikan arti sepenuhnya dari 'meditasi' dalam spiritualitas Kristiani.

Ada dua alasan yang mendukung penggunaan istilah 'mantra'. Pertama, istilah ini telah umum digunakan dan dimengerti secara luas dalam doa Kristiani. Kedua, bagi beberapa orang yang belajar doa kontemplatif untuk pertama kalinya mungkin memerlukan beberapa penjelasan dan diskusi khusus. Dengan pemahaman tentang arti 'mantra' dan 'meditasi', umat Kristiani masa kini terdorong untuk memahami dan menemukan kembali dimensi kontemplatif dari iman dan kehidupan doa mereka.

Bagi pendengar yang baru pertama kali mendengar kata meditasi, mereka perlu dibantu untuk mengerti tentang Meditasi Kristiani. Kata mantra perlu dijelaskan waktu kata itu digunakan pada sesi pengajaran. Sebagai contoh dalam memperkenalkan meditasi Kristiani kepada pendengar baru, terutama pendengar yang tidak berbahasa Inggris, mungkin lebih bijaksana jika pertama-tama menggunakan istilah kata atau kata-doa. Pada saat kita menerangkan kata-kata yang disarankan - misalnya Yesus atau Abba atau maranatha, pembicara dapat menyebutnya sebagai 'mantra Kristiani awal atau kata suci dalam tradisi Kristiani'.

Dengan mengingat semua pengertian dan latar belakang ini dan, dari pengalaman Komunitas Mondial Meditasi Kristiani, yang sekarang hadir di lebih dari seratus negara, dapat disimpulkan bahwa istilah 'mantra' bukanlah halangan besar bagi penyebaran pengajaran ini. Tantangan yang lebih besar adalah untuk membantu orang-orang yang telah terbiasa berdoa dengan doa-doa devosi untuk memahami, melalui pengalaman mereka sendiri, arti doa kontemplasi dan doa hati. Meskipun bagi beberapa orang istilah 'mantra' dapat menyebabkan kebingungan, tetapi mereka dapat dibantu untuk memahami artinya sehingga mereka dapat menangkap apa yang dimaksud dengan meditasi itu sendiri dengan lebih baik, yaitu sebagai jalan tanpa menggunakan kata-kata, pikiran dan gambaran ke dalam keheningan Kristus. Hal ini diungkapkan dalam doa pembukaan yang dibuat oleh Pater John Main:

      Bapa di surga, bukalah hatiku bagi kehadiran dari roh Putra-Mu dalam keheningan. Tuntunlah aku ke dalam
      misteri keheningan di mana kasih-Mu dinyatakan bagi semua orang yang berseru maranatha, datanglah
      Tuhan Yesus.

Laurence Freeman OSB


Bahan Pengajaran Lainnya:







Meditasi Kristiani Online:
Praktek dan Pengajaran Singkat
Six Week
Week 1:


Week 2:


Week 3

Week 4

Week 5

Week 6

Subscribe Youtube: Meditasi Kristiani Indonesia



YOUTUBE: