Home
Kalender Kegiatan Komunitas
Renungan Prapaskah 2018
Bacaan Harian Bersama John Main
Daily Wisdom
Weekly Teaching
Newsletter
Renungan Bacaan Injil
Bahan Pengajaran
> > Bahasa Indonesia
> > Bahasa Inggris
Cara Bermeditasi
Pokok Pengajaran
Oblat WCCM
Kerabat Meditator


Acara Khusus
Jadwal Pertemuan
Kolom Tanya Jawab
Berita & Foto
Sharing
Kepustakaan
Tentang Kami
Hubungi Kami















Links:
Bahasa Inggris
* WCCM
* Programme | Bonnevaux Centre for Peace
* School of Meditation
* Christian Meditation for Priests












Bahan Pengajaran:

Doa Hening dan Doa Singkat: Rm Cyprianus Verbeek O Carm

Mungkin anda pernah membaca buku kecil yang berjudul “Doa Singkat dan Doa Hening” yang berisi terjemahan dari beberapa konperensi Dom John Main, OSB. Ia memberikan konperensi tentang Meditasi Kristiani itu kepada para trappist di Pertapaan Getsemani, Amerika Serikat. Saya sekarang diminta membahas sedikit soal doa hati dan meditasi kristiani.

Saya bertitik-tolak pada kata “doa singkat”. Arti istilah itu diketahui umum, yakni kurang lebih sebagai berikut : kadang-kadang, misalnya di tengah pekerjaan dan kesibukan, kita mengucapkan suatu doa. Mungkin mohon bantuan Tuhan karena mengalami kesulitan, atau mau mempersembahkan pekerjaan itu kepada Tuhan. Doa seperti “Tuhan, kasihanilah aku”,“Tuhan, tolonglah aku”,“Segala-galanya bagiMu, ya Tuhan” dsb. Mudah dimengerti bahwa doa seperti itu disebut doa singkat. Terdiri dari beberapa kata saja.

Kalau kita bandingkan dengan mantra yang dipakai dalam meditasi kristiani (ma-ra-na-tha), tidak kelihatan bedanya. Sama singkatnya, bukan? Bedanya ialah bahwa selama 20 atau 30 menit doa singkat itu diulangi terus-menerus, dengan penuh perhatian. Saya kira, jauh lebih mudah mengucapkan dengan penuh semangat dan perhatian suatu doa singkat di tengah-tengah kesibukan kita daripada selama 20 menit mengulangi mantra itu tanpa pikiran melayang atau gangguan lain. Kita semua mempunyai pengalaman dalam pikiran melayang waktu mau berdoa lebih lama. Doa singkat waktu kerja itu lebih mudah diungkapkan dengan penuh semangat, terarah dan terpusat.

Namun ada perbedaan lebih besar antara doa singkat itu dengan apa yang disebut meditasi kristiani yang menggunakan mantra selama 20 sampai 30 menit itu. Dom John Main mengajar meditasi kristiani dengan mantranya,untuk membantu seorang mahasiswa yang minta bimbingannya dalam hal meditasi. Dom John Main sendiri kembali kepada pengalamannya yang dahulu. Pengalamannya di Malaysia, waktu ia bekerja di sana di kantor pemerintahan. Waktu ia bertemu dengan seorang swami Hindu yang mengajar dia bermeditasi dengan satu kata, diucapkan penuh konsentrasi selama beberapa waktu. Kemudian ia menemukan dalam tradisi kristiani sendiri bahwa metode atau cara berdoa demikian sudah dipakai oleh para rahib di padang gurun. Mantra atau doa singkat mereka misalnya “Tuhan, datanglah menolong aku”; biasanya diambil dari mazmur. Lambat laun cara berdoa itu ditinggalkan selama beberapa abad. Tetapi dalam abad ke-17 seorang benediktin Inggeris, Dom Agustin Baker, menemukannya kembali dan mengajarnya. Sayang dalam dua tiga abad berikutnya metode doa itu menghilang lagi karena beberapa alasan yang tak usah sekarang saya uraikan. Tetapi Dom John Main dalam membimbing mahasiswa di Washington DC , kembali menggunakan metode itu yang dahulu sangat membantu dia sendiri. Itu sedikit sejarahnya

Doa singkat di tengah pekerjaan biasanya hanya mau minta pertolongan pada saat itu. Tetapi mantra dalam meditasi kristiani mau membantu kita dalam perkembangan hidup rohani. Mendengar itu kita barangkali langsung berpikir tentang “hidup lebih baik”, “mengurangi kesalahan”, “tidak mudah menyerah kepada kelemahan atau godaan” dsb. Tentu tujuan itu baik dan sebenarnya harus diusahakan oleh setiap orang Kristen. Tetapi maksud John Main lain. Hidup rohani kita benar-benar berkembang, kalau peran Roh Kudus makin nyata dalam hidup kita. Yesus menjanjikan dan kemudian mengutus Roh Kudus. Untuk apa? Supaya Roh Kudus menyertai kita (Yoh. 14,17), menolong kita sebagaimana Yesus menolong para muridNya, ketika Ia hidup bersama mereka. Roh Kudus mengajar kita apa yang sudah diajarkan Yesus. Jadi Roh Kudus mau menolong kita mengerti, memahami, menghargai dan menghayati ajaran Injil. Tetapi terutama Ia mengajar kita SIAPA Yesus sebenarnya (bukan yang kita bayangkan atau inginkan, seperti dibuat para murid dahulu kala sebelum Roh Kudus turun atas mereka).Yesus sendiri berkata bahwa Dia adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan (Yoh.14, 6). Ia mau membawa kita kepada BAPA, sumber segala kehidupan. Kebenaran tak lain dan tak bukan ialah mengenal BAPA melalui Yesus dalam Roh Kudus itu. Ini bukan teologi yang bisa dipelajari di STFT. Ini pengalaman iman.

Maka bisa ditanyakan apakah Roh Kudus sempat berkarya demikian dalam diri kita. Ber-kat pembaptisan dan sakramen krisma kita menerima Roh Kudus. Tetapi Dia sering se-perti seorang tamu yang tunggu dan tunggu sampai tuan rumah (ialah kita) mau menerimaNya. Jadi perlu kita keluar menemui Dia. Tetapi untuk bertemu dengan Dia, perlu kita mau keluar. Artinya tidak selalu mau sibuk dengan segala macam pikiran dan keinginan, kesusahan dan kesukaan kita. Kita harus menciptakan dalam diri kita suatu kerinduan akan Allah. Di situ kita mulai berbicara tentang “doa hati”.

Doa hati sebaiknya mengingatkan kita akan apa yang biasanya kita kaitkan dengan hati : segala macam rasa seperti cinta, rindu dll. Jadi doa hati mengarahkan kita kepada doa kerinduan. Maka pertama-tama saya mau tanya : seringkah dalam doa kita merindukan Allah atau lebih sering mohon macam-macam anugerahNya ? Kesehatan, keberhasilan, pertolongan dll. Tentu itu tidak buruk. Dalam Injil Yesus membantu banyak orang yang datang kepadanya dengan segala macam keluhan dan kesukaran mereka. Ia membantu mereka, bila melihat iman kepercayaan mereka. Ingat saja akan Bartimeus yang duduk di pinggir jalan masuk kota Yerikho. Yesus lewat dan ketika mengetahui itu, Bartimeus yang buta itu, berteriak minta tolong. Doanya singkat.Doa itu ia ulangi sampai Yesus memanggilnya dan menyembuhkannya. Ia dapat melihat ! Pengalaman yang bagaimana itu ? Apalagi ia berdiri di depan Yesus dan pertama-tama melihat Dia! Herankah kalau ia lalu mengikuti Yesus, menjadi murid Yesus.

Tetapi datangkah Yesus untuk menyembuhkan orang sakit, buta, lumpuh atau membantu orang dalam kesulitan mereka ? Itukah tujuan kedatangan-Nya ? Ia datang untuk merobohkan tembok pemisah antara manusia dengan Allah dan antara manusia dengan sesamanya. Ia datang mengampuni dosa kita, yang merupakan tembok pemisah itu. Untuk itu Ia menyerahkan nyawa-Nya. Putera Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan untuk dosa.

Karya ini dilanjutkan oleh Pembantu lain ialah Roh Kudus. Doa hati yang sebenarnya mengungkapkan kerinduan kita. Akan apa? Akan Siapa? Hanya Roh Kudus dapat membantu kita memohon anugerah yang tepat. Doa hati adalah doa dimana roh kita mau menuju kepada Bapa atau ingin mengenal Bapa, satu-satunya Allah yang benar dan Dia yang diutus Bapa, ialah Yesus Kristus, berkat bantuan Roh Kudus (bdk. Yoh. 17, 3). Maka doa hati berkaitan dengan roh baik roh kita sendiri maupun dengan Roh Kudus. Tanpa bantuan Roh Kudus kita tidak mampu mengucapkan Nama Yesus, menurut Santo Paulus (bdk.I Kor. 12, 3). Demikian juga dengan doa hati. Mudah-mudahan anda tidak lelah mendengarkan penjelasan ini !!

Saya mau menterjemahkan istilah doa hati dengan doa kerinduan akan Allah : roh kita merindukan Allah dan menuju kepadaNya. Sedikit panjang, tetapi lebih mudah dimengerti, bukan ! Dalam hal ini perlu kita ingat bahwa dengan kata kerinduan kita maksudkan sesuatu hal lain daripada keinginan, sekurang-kurangnya dalam konteks ini. Keinginan kita banyak : dari hal kecil (arloji, makanan tertentu dll.) sampai hal yang lebih besar (pekerjaan, rumah dll.) Kerinduan di sini mempunyai arti lebih mendalam : hasrat hati yang hanya mempunyai satu tujuan tunggal. Seringkali obyek keinginan kita begitu banyak jumlahnya. Tetapi dalam doa hati segala keinginan yang banyak itu, akhirnya kehilangan daya tariknya. Kerinduan itu mempunyai suatu kekuatan untuk mengalahkan segala macam keinginan. Supaya sedikit lebih jelas dan mudah dimengerti, kita ambil contoh dari hubungan dengan sesama. Kalau orang jatuh cinta dan menemukan kekasihnya yang sejati, banyak hal lain yang sebelumnya barangkali main peranan dan penuh arti dalam hidupnya, mulai kurang menarik atau malah mudah dilepaskan, apalagi kalau pihak lain mengharapkan itu. Ada sejenis kerinduan untuk menyenangkan hati kekasih dan itu mengurangi (sekurang-kurangnya untuk sementara waktu !!) daya tarik hal-hal lain. Katanya cinta itu buta. Dalam arti apa ? Sekarang yang dilihat hanya satu orang ini dan segala hal lain hanya berarti sejauh berkaitan dengan pribadi itu. Dan kalau orang tidak melihat atau merasa kekasihnya dekat, ia pasti akan merindukannya. Seandainya itu mudah diganti dengan keinginan lain, maka kita anggap cinta itu semacam cinta monyet saja. Nah coba memahami, bahwa sekarang Al-lah menjadi kekasih itu. Belum kita kenal baik, belum kita selalu merasa Dia dekat, namun kita rindukan, sejauh kita cinta akan Allah berkat bantuan Roh Kudus. Jika kerinduan itu kuat, kita bisa melepaskan banyak hal lain. Semoga ini kita mengerti, karena konsekuensinya banyak, yakni. doa hati tidak mungkin keluar dari hati yang masih penuh keinginan-keinginan yang berlawanan dengan perintah atau kehendak Allah.

Oleh karena itu para guru hidup rohani yang mengajarkan doa hati ini, menekankan bahwa orang yang mau menggunakan doa ini, harus bersikap serius dan bersungguh-sungguh dalam relasi dengan Allah, katakan dalam hal cintanya akan Allah. Ini bukan soal perasaan. Perasaan muncul dan menghilang. Cinta justeru dikenal karena bertahan terus. Orang yang benar-benar cinta, dia setia dan tekun. Allah mencintai kita dan Ia tidak pernah menarik kembali cintaNya, pun jika kita sendiri lupa akan Dia, menjauh dari Dia atau menolak Dia. Allah mengutus PuteraNya kepada kita untuk menyelamatkan, bukan untuk menghukum kita (Lihat Yoh. 3,16-17). Maka kalau kita bicara tentang cinta kita akan Allah yang serius, jelaslah bahwa kita harus setia dan tekun dalam mentaati perintah Allah dan melaksanakan kehendakNya. Menurut Yesus sendiri itulah sumber kebahagiaan sejati. Coba ingat, pasangan mana yang benar-benar bahagia : mereka yang mengutamakan kehendak pihak lain ! Anda sudah punya pengalaman !

Semua guru hidup rohani menekankan bahwa untuk menggunakan doa hati dengan hasil yang baik, dibutuhkan suatu pertobatan. Orang harus mengenal diri untuk memperbaik diri. Untuk itu ia perlu mulai mengenal Allah dengan memperdalam iman, harapan dan cinta. Berkat iman ia dapat melihat dirinya lebih baik sebagaimana Allah mengenal dia (proses yang pelahan-lahan, makan waktu). Berkat harapan ia membersihkan hatinya dari keinginan dan kecenderungan yang kurang baik dan mengarahkannya kepada Dia yang mau ia cintai. Berkat cinta ia mau melakukan keutamaan atau kebajikan (adil, ugahari, kuat, bijak) demi Allah. Jadi dalam tahap awal itu hati atau roh kita berusaha menjadi bersih. Mudah dipahami bahwa pertobatan dan pembersihan ini amat perlu untuk dapat memupuk kerinduan akan Allah yang tadi kita bahas. Maka orang yang belum mencintai Allah, tak akan bisa berdoa dengan hatinya. Ia belum mampu merindukan Allah, karena tumpukan keinginan yang menutupi hatinya.

Timbul pertanyaan. Apakah orang yang belum bertobat atau yang hatinya belum murni dalam arti itu tadi, dapat menggunakan metode meditasi kristiani ? Saya mengira bahwa pertanyaan itu agak teoretis. Orang yang belum menginjakkan kakinya di jalan pertobatan, tidak pikir akan doa meditasi dalam bentuk apa pun dan seandainya pernah mulai, itu tidak akan melekat padanya.

Pertanyaan yang mungkin lebih penting bagi kita : apakah penggunaan mantra kita terma-suk doa hati? Pertama saya yakin bahwa anda yang mungkin mau menggabungkan diri dalam komunitas meditasi kristiani, merasa ada cinta dalam hati. Barangkali tidak dalam bentuk berapi-api dan belum sempurna, tetapi anda mencari atau mau mencari Allah, mau lebih dekat dengan Dia., dan justeru itulah cinta yang dapat mengubah hati kita. Kalau mau dekat dengan Allah, maka kita lama-kelamaan akan menjauh dari apa yang berlawanan dengan kehendak Allah. Tidak langsung dalam sekejap mata, tapi ada usaha. Mantra harus dipakai dengan tekun dan setia. Baru dapat membantu untuk membersihkan hati. Ada beberapa tingkat, kata Dom Laurence Freeman, dalam perkembangan doa ini. Mula-mula kita diganggu oleh pikiran melayang seperti monyet yang melompat dari pohon ke pohon. Itu pasti sudah kita alami. Tetapi karena tekun setia mengucapkan mantra, lambat laun hal itu kita kuasai, tentu selalu dengan rahmat Allah yang tak perlu diragukan.

Tingkat kedua kita alami bila kita makin mengenal diri dengan segala kekurangan, bahkan kedosaan kita. Bukan dalam arti bahwa ketika meditasi masuk tahap itu, kita tiba-tiba menjadi lebih buruk. Tidak. Hanya kita mulai mengenal diri lebih baik dan mengerti lebih baik apa artinya berdosa. Kita mulai mengenal Allah sedikit lebih baik berkat rahmat yang menerangi hati kita. Saya suka membandingkan pengalaman rohani ini dengan terang lampu. Hati kita seperti gudang. Gudang biasanya kurang teratur, kotor, penuh laba-laba. Kalau kita butuhkan sesuatu, kita masuk gudang, mungkin sudah hafal dimana letaknya barang itu (palu, obeng atau apa). Kalau tidak, kita pakai lampu senter. Cukup untuk menemukan barang itu, tetapi tidak cukup untuk melihat keadaan gudang dengan tepat. Baru kalau kita pasang lampu yang 100 watt, kita melihat betapa kotor dan tidak teratur gudang kita. Mungkin pada saat itu kita ingin membersihkannya. Nah pemeriksaan batin kita bagaikan terang lampu senter : kita melihat kekurangan, namun secara global saja, belum sangat jelas. Kalau Allah masuk ke dalam hidup kita ( ditahap atau level kedua ini), kita melihat keadaan hati kita jauh lebih jelas dan kita bisa merasa terkejut dan gelisah. Sebenarnya kita tidak menjadi lebih buruk (bahkan sudah mulai maju !), tetapi kita melihatnya dengan lebih jelas. Dalam teori hidup rohani ini memang disebut tahap penerangan. Ada terang, tetapi tidak tentu berarti kita melihat cahaya yang menarik, mungkin justeru kita melihat diri kita yang nyata. Ini bantuan Tuhan yang benar-benar hadir pada saat-saat seperti itu. Kita mulai melihat diri kita sedikit lebih sebagaimana Allah melihat kita : orang berdosa, tetapi orang berdosa yang dicintai oleh-Nya. Tuhan mau membersihkan hati kita lewat doa hati, doa kerinduan itu.

Oleh karena itu doa kita – mantra kita – menjadi termasuk doa kontemplatif. Artinya : kita dibantu oleh Tuhan dalam usaha doa kita (peranan kita masih besar) untuk bersatu dengan Allah dalam kuasa cinta. Itu disebut kontemplasi. Kita makin rela dan makin berusaha menyesuaikan diri dengan kehendak Allah. Itu ciri khas cinta sejati.

Masih ada tahap kesulitan lain yang lebih mendalam. Kita seakan-akan berdiri di depan tembok, tak tahu bagaimana dapat menerobosnya, agar sampai kepada Allah yang kita rindukan. Kita dapat menjadi suatu pertanyaan besar bagi diri kita : untuk apa hidup ini dsb. Kemudian tembok itu mulai roboh seperti terjadi dengan tembok Berlin pada tahun 1989. Kita dipersatukan dengan Allah, oleh Allah, karena Roh Allah bernafas dalam diri kita menuju kepada Allah. Roh Allah makin merindukan Allah dalam diri kita. Ini hanya saya singgung sepintas lalu. Jangan terlalu dipikirkan dulu.

Mantra kita baru masuk jenis doa hati pada saat hati cukup bersih sehingga mantra itu mengungkapkan kerinduan cinta hati kita. Sekali lagi mau saya tekankan bahwa itu tidak terjadi dalam perasaan, tetapi dalam ketekunan dan kesetiaan. Ketekunan itu pernyataan kerinduan kehendak kita yang makin kuat. Ini bisa disertai oleh rasa cinta meluap, bisa juga oleh rasa kering dan kendor atau sebagaimana sudah dijelaskan di tahap kedua tadi, oleh kesadaran bahwa kita ini benar-benar orang berdosa. Macam-macam perasaan dapat bergumul dalam hati kita. Tetapi yang penting ialah kita tetap tekun, setia, mengulangi mantra. Sebab apa yang kita mulai sebagai doa singkat biasa, kini menjadi doa kerinduan – doa hati. Ini bisa dan akan berkembang ke tingkat-tingkat lebih tinggi atau lebih mendalam. Tetapi penjelasan ini cukup untuk sekarang ini.

Batu, 23 April 2007

Cyprianus Verbeek, O.Carm.


Bahan Pengajaran Lainnya:







Meditasi Kristiani Online:
Praktek dan Pengajaran Singkat
Six Week
Week 1:


Week 2:


Week 3

Week 4

Week 5

Week 6

Subscribe Youtube: Meditasi Kristiani Indonesia



YOUTUBE: