Home
Kalender Kegiatan Komunitas
Renungan Prapaskah 2018
Bacaan Harian Bersama John Main
Daily Wisdom
Weekly Teaching
Newsletter
Renungan Bacaan Injil
Bahan Pengajaran
> > Bahasa Indonesia
> > Bahasa Inggris
Cara Bermeditasi
Pokok Pengajaran
Oblat WCCM
Kerabat Meditator


Acara Khusus
Jadwal Pertemuan
Kolom Tanya Jawab
Berita & Foto
Sharing
Kepustakaan
Tentang Kami
Hubungi Kami















Links:
Bahasa Inggris
* WCCM
* Programme | Bonnevaux Centre for Peace
* School of Meditation
* Christian Meditation for Priests












Bahan Pengajaran:

Seminar Meditasi Kristiani

Bandung, 16 Oktober 2008
Fr.Laurence Freeman, OSB

Kita dapat belajar banyak dengan mendengarkan sharing orang lain. Hal yang disampaikan di sini adalah sharing Fr. Laurence tentang kehidupan doa yang dapat mengubah hidup kita. Tetapi lebih dari itu, kiita tidak hanya diundang untuk mendengarkan sharing tetapi juga diajak untuk mengalaminya sendiri apa yang telah disharingkan.

Berbagai macam doa pada akhirnya membimbing kita pada kesatuan dengan Kristus. Hidup dan doa kita diibaratkan sebagai mata dan kaca mata. Hidup membutuhkan doa sama halnya mata membutuhkan kacamata dimana kedua lensanya memiliki ukuran yang sesuai sehingga kita dapat melihat realitas dengan jelas.

Logo Meditasi Kristiani terinspirasi dari mozaik kuno dari salah satu Gereja perdana yaitu: Dua ekor burung yang merupakan lambang dari sikap kontemplatif dan sikap aktif. Burung yang menengok ke atas melambangkan sisi kontemplatif, dan sisi aktif dilambangkan dengan burung yang sedang mematuk makanan. Kedua sisi inilah yang merupakan kesatuan dari kedua lensa kacamata untuk menuju pada kesatuan dengan Kristus.

Dalam Injil, sisi aktif-kontemplatif diceritakan dalam kisah Marta dan Maria (lihat Injil Lukas 10: 38-42). Marta mencerminkan seorang yang aktif yaitu seorang pekerja yang mengurus segala sesuatu, sedangkan Maria mencerminkan seorang yang kontemplatif yaitu seorang yang memilih duduk dekat Yesus. Kemudian timbul masalah, yaitu pada saat Marta mulai merasa terganggu, karena ia merasa cemas akibat perhatiannya pada segala hal mulai memperlihatkan ketidakberesan. Selanjutnya ia mulai marah dalam hati dan ketika kemarahan itu tidak lagi dapat ditahan dan ia menghampiri Yesus, yang tanpa disadarinya secara tidak langsung menyerang Yesus yang "membiarkan ia bekerja sendiri". Kedatangan Yesus mungkin bersama rombongan para murid merupakan hal yang biasa, nampaknya semua dapat dikerjakan olehnya sendiri, tapi ketika muncul ketidak beresan, rasa frustasipun muncul terutama saat ia melihat Maria tidak membantunya. Nampaknya Marta cocok bila dijadikan pelindung bagi orang stress di masa kini.

Marta memikul bebannya sendiri dan ia menderita. Dalam situasi itu Yesus melihat dan memperlihatkan belarasa dengan memanggil namanya "Marta, Marta". Saat seperti inilah, seperti Marta, nama kita dipanggil, kitapun diundang lebih dalam masuk kedalam kesatuan dengan Yesus. Dalam tradisi meditasi Kristiani "Pengenalan diri" merupakan landasan untuk "Pengenalan akan Allah". Saat Yesus menyapa "Marta, Marta", Marta tertolong untuk menyadari dirinya, langkah pertama adalah menyadari bagaimana keadaan saya sekarang. Yesus memperlihatkan bahwa ia cemas karena perhatiannya terpecah-pecah seperti seorang pemain akrobat, yang lepas kontrol. Yesus memberikan kata bijaksana tentang satu hal saja, dimana Ia tidak merumuskan secara langsung, namun kitalah yang perlu menangkap hal penting itu. Yesus seperti membela Maria atau membela hidup kontemplatif, dimana Gerejapun menggunakan kata-kata itu untuk mempertahankan cara hidup kontemplatif yaitu "Maria telah mengambil bagian yang terbaik dan tidak akan diambil darinya". Yesus tidak mempersalahkan Marta namun membantu Marta menyadari dirinya. Sabda Allah hidup dan bekerja saat kita membuka hati dan hidup. Oleh karena itu penting untuk "mendengarkan" panggilan tsb dan melihatnya dalam hidup kita masing-masing sehingga kita dapat bertanya pada diri sendiri apakah hal yang penting itu.

Dunia saat ini dipenuhi oleh banyak orang yang seperti Marta, pribadi yang tidak seimbang sehingga mereka merasa cemas, kesepian, dan putus harapan. Persoalan yang dihadapi oleh Marta adalah persoalan kita juga, pikiran kita mengalami banyak pelanturan-pelanturan karena kita tidak hidup di saat kini tetapi berombang ambing antara masa lalu dan masa depan. Kita tercerai berai sehingga tidak dapat melaksanakan tugas secara optimal. Saat perhatian tidak terfokus, kita sering melakukan kesalahan, saat tidak terfokus itu kitapun kurang memperhatikan Tuhan. Kita marah karena kita merasa Tuhan tidak hadir tetapi sebenarnya kitalah yang tidak hadir karena kita tidak hidup dalam masa kini. Marta melupakan kebenaran yang ada dalam diri Maria yaitu sikap kontemplatif. Bila hal itu tak dilupakannya ia dapat menjadi aktif yang kontemplatif atau kontemplatif yangaktif. Segala kegiatan aktif harus bersumber pada kehidupan kontemplatif. Dalam keadaan tercerai berai akan sulit melakukan kegiatan aktif yang kontemplatif.

Maria dan Marta melambangkan juga dua bagian jiwa yang dalam bidang kedokteran dipaparkan sebagai kegiatan otak kiri dan otak kanan, dimana otak kiri aktif untuk berbahasa, menganalisa, berpikir, membuat rencana, menguraikan masalah, membanding-bandingkan, menghitung untung dan rugi dan hal-hal lain yang berhubungan dengan logika, sedangkan otak kanan aktif untuk menghubungkan gagasan-gagasan, artistik, menggunakan intuisi, dalam tingkat yang lebih dalam yaitu hati. Maria dan Marta juga lambang dua sisi dari doa, dua lensa yang diperlukan kacamata agar mata dapat melihat sesuatu dengan jelas. Sering lensa Maria atau kontemplatif terlepas, untuk itu kita harus mencari dan memasangnya kembali. Kita juga harus menjaga agar lensa tidak terlepas sehingga kita dapat berkembang dalam keseimbangan dan mencapai kedamaian. Damai tidak dapat dicapai dalam keterpecahan.

Ada beramacam-macam bentuk doa, hal ini untuk membuka mata batin kita, melalui mata batin kita dapat melihat Tuhan dalam segala hal. Inilah tujuan doa juga agama. Bila suatu agama kehilangan segi kontemplatif akan menjadi sangat berbahaya karena telah kehilangan pusatnya, agama itu akan merosot menjadi tahayul. "Hidup Kristiani bukan hidup tahayul tapi hidup beriman".

Cara hidup kontemplatif berasal dari tradisi Kristiani kuno, para bapa padang gurun melakukan cara yang sederhana untuk masuk dalam hening dan diam, ini adalah sangat sederhana tapi bukan masalah rileksasi. Secara psikologis meditasi sangat baik karena membantu sistim persyarafan untuk mengurangi stress. Meditasi bukan apa yang dipikirkan, dalam hal ini berpikir-pikir tentang Tuhan, tetapi waktu ini adalah waktu berdoa dengan hati. Seperti yang dikatakan St Paulus, "... sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah ..." (Rm 8:26). Kita tidak tahu bagaimana berdoa, tapi Roh yang di dalam dirikulah yang berdoa. Kita hadir di dalam Allah dan Allah di dalam kita. Kita sukar menyadari kehadiran Allah bila kita terpecah, Meditasi menolong kita untuk menjadi integral.

Kelompok-kelompok yang mudah bermeditasi adalah :
1. Anak-anak. Karena anak-anak hadir di saat kini , sedang orang dewasa sering terpecah antara waktu yang masalalu dan masa yang akan datang.
2. Orang yang jatuh cinta, perhatiannya terfokus pada kekasihnya
3. Santo, Santa yang mendapat karunia khusus.

Kita semua mendapat panggilan khusus untuk selalu mengasihi dan hidup suci, sehingga perlu memiliki sifat anak-anak, "jatuh cinta" pada semua, untuk itu meditasi membantu kita kearah itu.
  • Duduk tenang dan tegak
  • Diam
  • Sadar
  • Pejamkan mata
  • Hening
  • Dari hati yang terdalam ucapkan kata-doa, Kata yang dianjurkan Ma-ra-na-tha
  • Ulangi mantra terus dengan perhatian, bila ada pikiran lain baik atau buruk, gagasan-gagasan, bahkan hal-hal yang rohani sekalipun biarlah berlalu. Inilah yang disebut sebagai semangat kemiskinan. Berbahagialah yang miskin di hadapan Allah karena disitulah letak Kerajaan Allah, yaitu kehadiran Allah.

Bila meditasi dilakukan setiap hari maka pekerjaan Marta akan menjadi lebih baik. Satu sisi, sisi aktif yang ramai, satu sisi yang lain, sisi kontemplatif yang hening. Meditasi menghubungkan ke dua sisi tersebut. Jangan hanya setengah-setengah, tapi lakukanlah setiap hari selama 20-30 menit, waktu yang ideal adalah pagi hari sebelum sibuk dan sore hari sebelum makan malam. Setelah beberapa lama baru kita akan membangun irama yang sesuai dengan pola hidup kita.

Ibu Ancella, Kelompok Meditasi Kristiani di Cimahi



Bahan Pengajaran Lainnya:







Meditasi Kristiani Online:
Praktek dan Pengajaran Singkat
Six Week
Week 1:


Week 2:


Week 3

Week 4

Week 5

Week 6

Subscribe Youtube: Meditasi Kristiani Indonesia



YOUTUBE: